13 Juni 2026
Pertanian

Kementan: Produktivitas CSA Jawa Barat Naik 1 Ton/Ha Gabah Kering Panen

post-img
SIMURP KEMENTAN: Kegiatan FFD di di Desa Pasuruan, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon dihadiri Kapusluh BPPSDMP Kementan, Bustanul Arifin Caya [ke-2 kiri] bersama Wagub Jabar; H Uu Ruzhanul Ulum [kemeja putih] dan Bupati Cirebon, H Imron Rosyadi [ke-2 kiri].

CIREBON - Hasil evaluasi kegiatan Climate Smart Agriculture [CSA] Provinsi Jawa Barat di lokasi Demplot Scalling Up meningkat rata-rata 1 ton/ha Gabah Kering Panen [GKP] di Kecamatan Patok Beusi, Kabupaten Subang. Sementara CSA Demplot Kecamatan Pabedilan, Kecamatan Pabedilan, Cirebon hasil produktivitas dari penghitungan ubinan mencapai 7,8 ton GKP per hektar pada 2022.

Capaian Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Modernization and Urgent Rehabilization Project [SIMURP] diperkuat data produktivitas dari Badan Pusat Statistik [BPS] melalui perhitungan Kerangka Sample Area [KSA]. Sementara Indeks Pertanaman [IP] naik dari 1.93 pada 2021 ke 1.99 pada 2022.

Selain itu, pada lokasi Demplot CSA SIMURP tersebut terjadi penurunan emisi Gas Rumah Kaca [GRK] sebesar 37% di lokasi 17 kabupaten SIMURP pada 2021 mengacu hasil uji Balai Penerapan Standar Instrumen [BPSI] Pati.

Fakta progresif tersebut mengemuka pada ´Hari Temu Lapang Petani´ atau Farmers Field Day [FFD] di Desa Pasuruan, Kecamatan Pabedilan, Selasa [8/8]. Hadir Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan [Pusluhtan] Bustanul Arifin Caya; Wakil Gubernur Jabar, H Uu Ruzhanul Ulum dan Bupati Cirebon, H Imron Rosyadi; Sekditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Sri Purwaningsih dan sejumlah pejabat eselon dua Kementan.

Capaian CSA SIMURP di Jawa Barat sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa Program SIMURP harus mampu membantu meningkatkan produktivitas padi pada sentra produksi pangan pokok.

"Menghadapi musim kemarau panjang atau El Nino yang diprediksi mulai Juli hingga September 2023, Kementan mengimbau dinas pertanian provinsi serta kabupaten dan kota memanfaatkan sumber air yang ada," katanya.

Sumber air di lahan pertanian, kata Mentan Syahrul, yang dibangun pemerintah memang untuk mengantisipasi kekeringan maka petani didampingi penyuluh harus mampu menghemat penggunaan air, seperti menerapkan teknologi CSA dalam hal penghematan air pertanian.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan goals-nya adalah meningkatkan Indeks Pertanaman [IP] diutamakan padi dan tanaman bernilai ekonomi tinggi, produktivitas, produksi serta peningkatan pendapatan petani melalui penerapan CSA dalam menghadapi dampak dampak perubahan iklim menuju ketahanan pangan berkelanjutan.

Demplot merupakan salah satu metode penyuluhan yang dipilih oleh penyuluh pertanian agar teknologi yang diinformasikan lebih mudah diterima petani, sehingga petani diharapkan lebih cepat tahu, mau dan mampu melaksanakan kegiatan pertanian dengan contoh yang nyata.

"Sementara Output-nya, 2808 Demplot teknologi CSA + 117 demplot CSA mendukung Genta Organik; Pilot Scaling Up CSA di 48 lokasi @50 Ha di 24 Kabupaten," katanya.

Dedi Nursyamsi menambahkan, fasilitasi penguatan 117 BPP; fasilitasi 117 Kelembagaan Ekonomi Petani [KEP] melalui Bimtek, dan peralatan; fasilitasi 117 KWT dalam mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian melalui Bimtek dan peralatan pendukung pengolahan dan pemasaran; Difasilitasinya Bimtek 117  petani milenial SIMURP untuk memperkuat KEP dan sosilisasi CSA SIMURP.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian [Pusluhtan] BPPSDMP Kementan, Bustanul Arifin Caya menambahkan sasaran nasional kegiatan SIMURP, petani melalui Poktan yang terafiliasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air [P3A] dan Gabungan P3A pada 20 Daerah Irigas [DI], dua DI Rawa [DIR] pada 24 kabupaten di 10 provinsi dan 117 BPP terkait CSA.

"Pilot Scaling Up seluas 50 hektar pada 24 kabupaten lokasi SIMURP Penguatan BPP Kostratani pada 117 BPP lokasi SIMURP dan pengembangan KEP dengan melibatkan petani milenial serta KWT di 117 BPP," katanya.

Sementara metode pelaksanaannya, kata Bustanul AC, melalui Demplot CSA berupa pembuatan pupuk organik, pestisida nabati, Jajar Legowo, Teknologi Hemat Air, Pengambilan sampel GRK, Kalender Tanam [Katam], Varietas Unggul Adatif Iklim]; Sekolah Lapang melalui Scalling Up CSA 50 Ha di 24 kabupaten; dukungan dan fasilitasi operasional BPP dalam pengawalan dan pendampingan kegiatan CSA Bimtek serta pengawalan dan pendampingan pada 117 KEP dan KWT. [timsimurpkementan]

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup