13 Juni 2026
Pertanian

Kementan Kawal Petani CSA Pinrang Membuat Pupuk Kompos dari Jerami

post-img
SIMURP KEMENTAN: Kementan bersama Program SIMURP pada Rembug Tani Scalling Up CSA di Kecamatan Watang Sawitto, Pinrang mengajak petani setempat memanfaatkan pupuk organik, di antaranya pupuk kompos dari jerami.

PINRANG - Sosialisasi dan praktik membuat pupuk organik tiada henti disosialisasikan oleh Kementerian Pertanian RI bagi Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture [CSA] lokasi Scalling Up pada 24 kabupaten di 10 provinsi termasuk Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Kementan bersama Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project 2023 [SIMURP] sosialisasikan Gerakan Tani Pro Organik [Genta Organik] dengan mengajak petani binaan Balai Penyuluhan Pertanian [BPP Sawitto] di Kecamatan Watang Sawitto, Pinrang membuat pupuk organik dari ´kompos jerami´ sekaligus praktik pemakaian.

Penyuluh Pusat Kementan bersama Koordinator BPP Sawitto, H Kaharuddin dan penyuluh setempat mengajak petani Pinrang memanfaatkan ´alternatif pemenuhan unsur hara bagi tanaman´ yang bahan bakunya berada di lahan persawahan berupa jerami dari hasil panen padi.

“Sumber pupuk banyak di sekitar kita, salah satunya pada jerami, karena 65% pupuk kimia yang digunakan terserap ke batang dan daun tanaman padi, sehingga bisa kita olah lagi dan kembalikan ke dalam tanah," kata H Kaharuddin.

Sosialisasi dan praktik pembuatan kompos dari jerami sejalan upaya Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo yang meminta petani didampingi penyuluh menggunakan pupuk organik, sebagai solusi keterbatasan pupuk bersubsidi.

"Pupuk organik harus menjadi bagian. Selalu saja petani terbiasa pada pupuk kimia bersubsidi. Bukan langka tapi kurang, oleh karena itu tidak semua harus dengan pupuk anorganik atau kimia," katanya.

Seruan serupa dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi agar petani menerapkan pemupukan berimbang.

"Pemberian pupuk sesuai yang diminta tanah dan tanaman, bukan pemberian pupuk sesuai keinginan petani. Pupuk bagi tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura itu berbeda. Kita harus tahu dan faham berapa banyak pupuk diminta tanaman dan tanah," katanya.

"Penerapan pemupukan berimbang, katanya, berarti kita sudah melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim. Pupuk anorganik atau kimia memerlukan energi listrik dan fosil, itulah sumber emisi gas rumah kaca," kata Dedi Nursyamsi.

Pupuk Jerami
Kementan bersama Program SIMURP pada Rembug Tani Scalling Up CSA di Kecamatan Watang Sawitto, Pinrang mengajak petani setempat memanfaatkan pupuk organik, di antaranya pupuk kompos dari jerami.

Koordinator BPP Sawitto, H Kaharuddin mengingatkan petani untuk tidak lagi membakar jerami hasil panen. Akibatnya, bukan hanya membuang unsur hara yang dikandung jerami, juga memicu polusi udara dan penyumbang emisi Gas Rumah Kaca [GRK] berupa gas karbondioksida [CO2] dari hasil pembakaran jerami.

"Dampaknya kita lihat sekarang, dimana terjadi perubahan iklim yang sulit diprediksi dan hama penyakit," katanya.

Berdasarkan hasil penelitian, apabila petani memanen padi dan memperoleh gabah kering lima ton pada luasan satu hektar, jika dikonversi dari jumlah jerami akan didapat unsur hara dari jerami berupa 20 kg Sulfur [belerang], 150 kg Nitrogen dikenal sebagai Urea, 20 kg fosfat atau SP36 dan 150 kg Kalium [KCL].

Selain itu, jerami juga mengandung unsur hara penunjang di antaranya 5,6% Si, 0,4% N, 0,02% P dan 1,4% K yang tidak ditemukan pada penggunaan pupuk tunggal kimia.

H Kaharuddin mengurai manfaat kompos dari jerami antara lain menyediakan unsur hara makro dan mikro yang relatif kecil ketimbang pupuk kimia; mampu memperbaiki struktur tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi ringan untuk diolah dan mudah ditembus akar; dapat meningkatkan daya menahan air [water holding capacity] sehingga kemampuan tanah untuk menyediakan air menjadi lebih banyak.

"Manfaat lain adalah kelengasan air tanah lebih terjaga, dapat memperbaiki kehidupan biologi tanah, mengandung mikroba dalam jumlah cukup yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik, aman bagi lingkungan dan dapat membantu peningkatan pH tanah," katanya.

Guna meningkatkan kandungan unsur hara kompos jerami, kata Kaharudin, dapat ditambahkan kotoran hewan [Kohe], rumput-rumputan dan dedaunan. [timsimurpkementan]

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup