24 Mei 2026
Pertanian

Kementan Kawal Pinrang Sulsel Tekan Risiko Gagal Panen dengan Teknologi CSA

post-img
SIMURP KEMENTAN: Koordinator BPP Lanrisang, Fatmawati Sutari bersama tenaga penyuluh Desa Barang Palie, Rapiudin, memantau pengolahan lahan pertanian di Desa Barang Palie oleh Poktan Pananrang untuk menekan risiko gagal panen sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

PINRANG - Para petani di daerah irigasi maupun daerah rawa didorong meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui penerapan teknologi Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture [CSA] dari Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP].

Kegiatan penerapan teknologi CSA oleh Program SIMURP tersebar pada 24 kabupaten di 10 provinsi, di antaranya Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan yang diinisiasi Kementan bersama Kementerian PUPR, Bappenas dan Kemendagri untuk menekan risiko gagal panen sekaligus meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.

Upaya tersebut dilakukan Pemkab Pinrang pada sentra produksi pertanian di antaranya Desa Barang Palie di Kecamatan Lanrisang di bawah kendali dan koordinasi Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Lanrisang mendorong petani setempat bersama kelompok tani [Poktan] dan Gapoktan menekan risiko gagal panen melalui teknologi CSA SIMURP.

Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa sumber air di lahan pertanian sudah dibangun pemerintah seperti embung, dam, parit, dan irigasi perpipaan/perpompaan.

"Menghadapi musim kemarau panjang atau El Nino yang diprediksi mulai Juli hingga September 2023, Kementan mengimbau dinas pertanian provinsi serta kabupaten dan kota memanfaatkan sumber air yang ada," katanya.

Sumber air di lahan pertanian, kata Mentan Syahrul, yang dibangun pemerintah memang untuk mengantisipasi kekeringan maka petani didampingi penyuluh harus mampu menghemat penggunaan air, seperti menerapkan teknologi CSA dalam hal penghematan air pertanian.

Hal senada dikemukakan Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa petani dan penyuluh menerapkan dan mengembangkan CSA melalui Program SIMURP untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim global.

"Indonesia diperkirakan akan mengalami kemarau panjang. Para penyuluh dan petani harus segera melakukan percepatan tanam agar di sisa musim hujan ini petani masih bisa panen," kata Dedi Nursyamsi.

Koordinator BPP Lanrisang, Fatmawati Sutari bersama tenaga penyuluh Desa Barang Palie Rapiudin memantau pengolahan lahan oleh Poktan Pananrang, Senin [24/7].

"Poktan Pananrang di Desa Barang Palie, Kecamatan Lanrisang adalah salah satu wilayah binaan Program SIMURP tahun 2023," katanya.

Fatmawati mengatakan SIMURP fokus pada penerapan teknologi hemat air, varietas unggul adaptif, pemupukan berimbang menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah dan Tanah Rawa [PUTS dan PUTR].

"Membuat dan menggunakan pupuk organik, teknologi Jajar Legowo dan pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT ramah lingkungan dengan penerapan pestisida nabati juga menjadi target SIMURP," katanya.

Tujuannya, kata Fatmawati, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, mengurangi risiko gagal panen serta lebih meningkatkan peran seluruh petani, baik di daerah irigasi maupun petani daerah rawa.

"BPP juga terus memantau implementasi CSA terutama dengan tetap melakukan pendampingan dan pengawalan kepada petani agar pelaksanaan kegiatan di tingkat lapangan berjalan sesuai target," katanya lagi. [timsimurpkementan]

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup