17 Juni 2026
Pertanian

Rangkul Milenial 15 Negara Sahabat, Kementan Dorong Pembangunan Pedesaan

post-img
POLBANGTAN BOGOR: Para peserta dari 15 negara dibagi menjadi dua kelompok dan kunjungan ke usaha-usaha yang dimiliki petani milenial Bali dan diskusi serta presentasi dari sudut pandang masing-masing peserta.

UBUD - Kementerian Pertanian RI kolaborasi dengan Kementerian Tenaga Kerja RI menggelar kegiatan observasi pemimpin muda dari sejumlah negara di antaranya Bangladesh, Kamboja, Fiji, India, Jepang, Malaysia, Mongolia, Pakistan, Filipina, China, Srilangka, Thailand, Turki, Vietnam dan Indonesia selaku tuan rumah.

Kolaborasi Kementan dengan Kemenaker berlangsung pada Selasa (11/7) di Hotel Sthala Ubud, Lodtunduh Ubud, Bali.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa penguatan peran pelaku usaha muda, atau generasi milenial di seluruh Indonesia.

"Tujuannya, mendorong percepatan ekspor dengan fasilitasi layanan, pendampingan teknis persyaratan ekspor serta membuka akses pasar," katanya.

Senada pernyataan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menuturkan bahwa pertanian harus didukung kalangan milenial sebagai generasi muda.

“Mendukung upaya pemerintah melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pertanian Indonesia,” jelas Dedi.

Sekretaris Eksekutif IAAEHRD Kementan, Siti Munifah mengatakan bahwa implementasi solusi inovatif digital membutuhkan dukungan peningkatan infrastruktur dan kapasitas petani dalam teknologi digital.

"Meningkatkan kapasitas petani, dengan adanya peran pemuda, dukungan kebijakan, dan perbaikan infrastruktur sangat penting untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan individu," katanya.

Tujuannya, meningkatkan keterampilan di bidang pangan, solusi inovasi digital juga dapat diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, manajerial modal, pasar aksesibilitas dan ketahanan pangan.

Dosen Polbangtan Bogor, Bayu Adirianto, hadir selaku peserta mewakili mewakili Kementan dan Indonesia mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat.

“Dari berbagai negara dapat berkumpul bersama di Indonesia dengan narasumber petani milenial yang menerapkan teknologi dari hulu sampai hilir," katanya.

Bayu menambahkan, para peserta dari berbagai negara berdiskusi bersama terhadap faktor kunci kesuksesan milenial dalam pengembangan pedesaan bidang pertanian.

Kegiatan tersebut menyatukan pemuda-pemudi dari berbagai negara untuk bertukar pikiran dan studi pengamatan terhadap berbagai usaha-usaha pemuda di pedesaan termasuk usaha pertanian di bali.

Pada sesi kunjungan ke petani milenial, hadir narasumber dari pengusaha muda Bali di antaranya Kadek Surya Prasetya Wiguna, petani milenial pemilik Cau Chocolates yang membagikan pengalaman uniknya di perkebunan dari perbanyakan tanaman pemeliharaan sampai pascapanen.

Aa Gede Agung Wedhatama, petani muda Bali Organik Subak (BOS) Packing House memberikan informasi kegiatan petani milenial BOS, produk premium BOS dijual di pasar lokal maupun internasional.

Dia juga berbagi ilmu dan pengalaman tentang pertanian terpadu, dan mendorong petani muda di Bali untuk menjadi petani yang unggul dan menggunakan smart farming.

Dewa Komang Yudi dari Tembok Village di Buleleng mengaku menempuh langkah-langkah luar biasa menuju transformasi dari pedesaan terbelakang menjadi desa  mandiri, yang memiliki inisiatif bermanfaat bagi lingkungan seperti bank sampah, kesehatan gratis, jasa dan produksi pertanian sebagai bagian program desa yang komprehensif.

I Nengah Sumerta, Gobleg Far-tc. Gobleg Far-tc merupakan desa pertanian yang berkembang pesat di Bali. Petani muda daerah Gobleg Far-tc memasukkan teknologi internet of things dalam kegiatan pertanian sehari-hari.

Mereka menjual produk unggulan produk premium secara efisien ke pasaran, tidak hanya menguntungkan masyarakat sekitar juga sebagai daerah percontohan dari pembangunan perdesaan yang berkelanjutan.

Para peserta dari berbagai negara dibagi menjadi dua kelompok dan melakukan kunjungan ke usaha-usaha yang dimiliki anak muda petani milenial Bali, dan melakukan diskusi serta mempresentasikan dari sudut pandang masing-masing peserta dari 15 negara tersebut.

Kegiatan tersebut menyimpulkan, konsep Smart Farming System dapat mempengaruhi generasi muda untuk berbisnis di bidang pertanian karena adanya digitalisasi. Nilai tambah dan branding untuk produk adalah termasuk faktor kunci.

Mendidik generasi muda dalam pertanian berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat dan pemerintah yang tinggi untuk mendukung petani lokal serta menjadikan bisnis pertanian menjadi tempat wisata untuk wisatawan asing maupun dalam negeri. [ijulya/wisda/timhumaspolbangtanbogor]

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup