PURWOREJO - Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture [CSA] mendukung alih teknologi pada sektor pertanian oleh Kementerian Pertanian RI mendukung Gerakan Pengendalian Hama Wereng dengan pesawat tanpa awak [Drone].
Kegiatan alih teknologi gerakan pengendalian [Gerdal] hama wereng berlangsung di wilayah Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Banyuurip di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah pada Senin [10/7] yang diikuti kelompok tani [Poktan] peserta penerapan Scalling Up di wilayah BPP Banyuurip, Purworejo.
Alih teknologi merupakan upaya Kementan melalui Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] di Purworejo yang diikuti seluruh petani dari peserta Scalling Up.
Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa seluruh insan pertanian harus ´melek teknologi´ mengingat hampir semua subsektor ekonomi menerapkan teknologi canggih.
"Oleh karena itu, kita harus menyiapkan semua SDM pertanian agar melek teknologi, minimal menguasai penggunaan drone untuk pembangunan pertanian," katanya.
Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi menegaskan hal serupa.
"Kementan melalui BPPSDMP sudah menyiapkan dan mengantisipasi hal tersebut, di antaranya dengan memperkuat BPP serta melengkapinya dengan internet dan komputer," katanya.
Guna mendukung kelancaran proses alih teknologi tersebut, kata Dedi Nursyamsi, Kementan melakukan kegiatan demonstrasi peralatan pertanian, di antaranya didukung oleh Program SIMURP.
"Tujuannya, agar petani mengerti dan mengetahui akan alih teknologi modern seperti penggunaan drone untuk mengendalikan hama," katanya lagi.
Sementara Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan [Pusluhtan] Bustanul Arifin Caya menegaskan komitmen pemerintah pada upaya mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim global melalui CSA.
"Tujuannya, meningkatkan produksi, produktivitas, indeks pertanaman atau dan menurunkan emisi Gas Rumah Kaca disingkat GRK," katanya.
Selain pengendalian hama, drone juga menjadi sarana vital pendataan dan penguatan data potensi pertanian di kecamatan. Data dimaksud meliputi luas baku lahan, luas tanam, produksi, luas panen, produktivitas, produksi, pengolahan hasil dan pemasaran, alat mesin pertanian [Alsintan] pra panen dan pasca panen produk per komoditas.
Penggunaan drone baik live atau recording akan menjadi input pengumpulan data maupun update data pertanian tingkat kecamatan. Pelaksanaan share data via koneksi online dari drone atau ke smartphone, computer processor unit [CPU], laptop dan monitor LCD didukung jaringan internet maupun wireless fidelity [WiFi]. [timsimurpkementan]