03 April 2026
Pertanian

Tanam Benih Langsung, Kiat Petani Pinrang Terapkan Teknologi `Tabela` a la CSA

post-img
SIMURP KEMENTAN: Upaya petani bersama SIMURP sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa pertanian harus dilakukan dengan maksimal melalui pengelolaan lahan, air cukup, varietas berkualitas dan manfaatkan teknologi.

PINRANG - Sejumlah petani di Provinsi Sulawesi Selatan menerapkan penanaman padi dengan Tanam Benih Langsung [Tabela] pada lahan Kelompok Tani [Poktan] Samarasa I di Desa Bunga, Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang pada Senin [10/7].

Kiat menanam Tabela dikenal petani pada pertengahan dekade 90-an, dan kian diminati oleh petani di seluruh Indonesia seperti halnya dilakukan Poktan Samarasa I di Kabupaten Pinrang.

Tabela adalah menanam padi secara langsung, di mana benih padi langsung disebar di lahan budidaya tanpa melalui proses penyemaian terlebih dahulu. Cara ini berbeda dengan budidaya padi sistem pindah tanam atau transplanting, dalam hal pembibitannya.

Kementerian Pertanian RI melalui kegiatan Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] mendukung penerapan Tabela dipadu Climate Smart Agriculture [CSA] atau Pertanian Cerdas Iklim.

Upaya petani bersama SIMURP sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa pertanian harus dilakukan dengan maksimal melalui pengelolaan lahan, air cukup, varietas berkualitas dan manfaatkan teknologi.

"Pola tanam Tabela dinilai lebih menguntungkan karena bibit lebih hemat sehingga biaya lebih murah. Misalnya, untuk lahan seluas dua ribu meter hanya membutuhkan benih sekitar lima kg tergantung pada jarak tanam," katanya.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi yang menyoroti tentang inovasi teknologi untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

"Mulai dari menghasilkan varietas yang tahan kekeringan, genangan bahkan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman atau OPT," katanya.

Dedi Nursyamsi juga mengajak petani bersama penyuluh menerapkan pemupukan berimbang, yaitu pemberian pupuk yang sesuai dan diminta tanaman dan tanah, bukan pemberian pupuk sesuai keinginan petani.

“Kalau kita menerapkan pemupukan berimbang, maka kita sudah melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim. Pemberian pemupukan non organik atau kimia memerlukan energi listrik dan fosil, dan itu menyebabkan gas rumah kaca," katanya lagi.

Pernyataan senada dikemukakan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan [Pusluhtan] Bustanul Arifin Caya menegaskan komitmen pemerintah pada upaya mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim global melalui CSA.

"Tujuannya, meningkatkan produksi, produktivitas, indeks pertanaman [IP] dan menurunkan emisi Gas Rumah Kaca disingkat GRK," katanya.

Di Pinrang, Sulsel, Kementan melalui Program SIMURP memadukan Tabela dengan Varietas Unggul Baru [VUB] Inpari 32 plus pemupukan berimbang, pengelolaan air, pupuk hayati dan pengendalian OPT secara terpadu.

Penerapan teknologi menggunakan sistem tanam Jajar Legowo 2:1, kemudian menggunakan benih 25 hingga  40 kg per hektar.

Diketahui, penerapan Tabela lebih mudah, karena saat ini telah ada alat khusus untuk pola Tabela pada tanaman padi. Sementara dengan persemaian, tanaman padi akan mengalami semacam stres lebih tinggi ketimbang menanam dengan pola Tabela. [timsimurpkementan]

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup