18 Juni 2026
Pertanian

Polbangtan Kementan Siap Antisipasi Perubahan Iklim dengan Teknologi & Inovasi

post-img
POLBANGTAN MALANG: Mahasiswa/i Polbangtan Malang inisiator teknologi dan inovasi AWS yakni Andine Santika Bentari, Oscar Fajar Hadi dan Herna Dhea Trio Putra di depan booth Polbangtan Malang di Penas XVI 2023 di Lanud Sutan Sjahrir Kota Padang, Sumbar.

PADANG - Politeknik Pembangunan Pertanian [Polbangtan] khususnya Polbangtan Malang menggelar Millenial Agriculture Forum [MAF] Edisi 22 Special Penas XVI 2023 bertajuk ´Smart Farming sebagai Solusi Inovatif menghadapi Perubahan Iklim´ kolaborasi dengan Mobil Ngobrol Asik Penyuluhan [Ngobras] dari Pusat Penyuluhan Pertanian [Pusluhtan].

Kegiatan MAF bertepatan dengan pembukaan Pekan Nasional Petani dan Nelayan [Penas] di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, sebagai komitmen Kementerian Pertanian RI merespons sekaligus antisipasi isu-isu strategis sektor pertanian terkait perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global.

Mengacu pada tema, webinar MAF oleh Polbangtan Malang membahas bagaimana menjawab isu-isu global dengan teknologi dan inovasi berupa Automatic Watering System [AWS] memanfaatkan sejumlah sensor untuk mendukung penyiraman tanaman, yang memanfaatkan tenaga surya sebagai sumber energi ramah lingkungan.

Upaya Polbangtan Malang sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa mahasiswa Polbangtan harus mampu menjadi champion pertanian masa depan, yang mampu mewujudkan pertanian kokoh dan berkelanjutan.

"Saya berharap setelah kalian selesai dari sini [Polbangtan] kalian mampu menjadi champion untuk membantu petani memastikan mereka tidak miskin. negara ini bisa baik kalau pertaniannya baik," katanya.

Mahasiswa adalah generasi emas yang bisa menjadikan Indonesia sebagai negara terkuat dalam menghadapi krisis dan tantangan global. Untuk itu, Mentan Syahrul mendorong mahasiswa Polbangtan mempertajam arah dan tujuan dalam mengelola pertanian.

Pendapat senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa pertanian harus didukung generasi milenial sebagai tumpuan masa depan pertanian nasional.

"Minat generasi milenial pada sektor pertanian harus tumbuh secara cepat karena saat ini sudah menggunakan teknologi dan mekanisasi berbasis 4.0, dimana pertanian Indonesia sudah jauh lebih maju. Terlebih semuanya diolah secara modern didukung digitalisasi," katanya.

Dedi Nursyamsi menambahkan, inovasi 4.0. ini ranahnya generasi milenial yang sangat terbuka dengan teknologi modern. Untuk itu, Kementan lakukan pendampingan dengan cara meningkatkan ilmu pengetahuan mereka dari hulu hingga hilir.

Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana mengatakan pihaknya selaku lembaga pendidkan vokasi binaan Kementan terus memotivasi dan membimbing para mahasiswa untuk merespon cepat isu-isu strategis sektor pertanian melalui pengembangan teknologi dan inovasi berbasis mekanisasi dan digitalisasi.

"Teknologi dan inovasi dimaksud adalah AWS, inovasi  teknologi canggih pada lahan pertanian, memanfaatkan sejumlah sensor berupa sensor kelembaban, sensor NPK dan sensor pH," kata Setya yang akrab disapa Uud.

Dia menambahkan, sejumlah sensor pada AWS berfungsi mendukung tanaman untuk tumbuh optimum tanaman yang memanfaatkan tenaga surya sebagai sumber energinya sehingga lebih ramah lingkungan.

Uud menambahkan AWS telah menjadi juara berbagai kompetisi dengan capaian Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Pendidikan Karya di Institut Pertanian Bogor [IPB] pada 2023 dan Juara II Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Nasional di Universitas Darrusalam Gontor pada 2023.

Hadir sebagai narasumber pada pembukaan Penas XVI 2023 adalah tim penggagas AWS yakni Oscar Fajar Hadi, Herna Dhea Trio Putra dan Andine Santika Bentari. Ketiganya merupakan mahasiswa Polbangtan Malang Jurusan Pertanian Prodi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan.

Andine Santika Bentari mengatakan terciptanya AWS untuk menjawab isu-isu dalam dunia pertanian diantaranya adalah isu global yaitu perubahan iklim yang sangat ekstrim yang berdampak pada sektor pertanian.

"Dampaknya, membuat kelembaban tanah tidak stabil, kemudian isu berikutnya adalah isu keterbatasan dan mahalnya pupuk," katanya.

Bermula dari isu-isu tersebut, kata Andine, mereka berinovasi agar petani dapat lebih mudah mengontrol kelembaban tanah melalui gadget.

Lebih efisien pula biayanya, katanya lagi, khususnya menekan biaya tenaga kerja dalam melakukan penyiraman tanaman sehingga mahalnya harga pupuk diimbangi dengan sarana prasarana yang lebih efisien.

Oscar Fajar Hadi berharap, hadirnya alat ini diharapkan dapat membangkitkan minat petani muda dengan mulai terjun kedalam usaha pertanian modern yang hemat tenaga dan ramah lingkungan.

“Para petani juga dapat mulai beralih menggunakan alat yang lebih efisien waktu, tenaga dan biaya sehingga diharapkan dapat menekan biaya produksi, untuk menghasilkan keuntungan lebih besar,” katanya. [didit/timhumaspolbangtanmalang]

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup