TANGERANG - Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menegaskan transformasi pembangunan pertanian berbasis penguatan petani milenial dan digitalisasi diperlukan, untuk mengubah pola tradisional ke modern agar pertanian lebih efisien sekaligus memanfaatkan peluang bisnisnya dengan orientasi laba.
“Generasi milenial berpotensi menjadi wirausahawan muda pertanian, karena kemampuan adaptasi tinggi atau fleksibel, kreatif, melek teknologi, empati dan mampu berpikir kritis," katanya.
Generasi milenial, kata Mentan Syahrul, diharapkan tidak hanya menjadi job seeker melainkan juga mampu mengembangkan diri menjadi job creator.
Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi mengatakan tentang pertanian modern bukan sekadar memenuhi kebutuhan pangan, namun orientasi bisnis untuk menghasilkan laba.
"Pertanian harus dilakukan secara bisnis. Regenerasi petani dari kolotnial ke milenial itu merupakan keniscayaan,” katanya.
Menurut Dedi Nursyamsi, salah satu capaian Kementan bagi pembangunan pertanian adalah meningkatnya petani milenial dengan rentang usia 16 - 39 tahun.
Keterlibatan generasi milenial, katanya, bukan tanpa alasan, kian masifnya penerapan teknologi digital pada sektor pertanian menjadi penarik minat generasi muda.
“Saat ini kita di era digital, peluangnya kemudian, petani milenial akan menjadikan mekanisasi dan digitalisasi sebagai peluang bisnis, maka manfaatkan dengan baik opportunity tersebut," kata Dedi Nursyamsi.
Peluang bisnis teknologi pertanian, yang akan menjadi ´medan tempur´ mahasiswa politeknik enjiniring pertanian Kementan, menjadi isu utama pada seminar online [Webinar] dari Millennial Agiculture Forum [MAF] Vol. 4 Edisi 2 yang digelar Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia [PEPI] Serpong pada medio Januari lalu.
Webinar MAF yang dibuka Kabadan Dedi Nursyamsi didampingi Direktur PEPI Serpong, Muharfiza selaku host MAF, menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya.
PEPI Serpong menghadirkan General Manager PT Yanmar Diesel Indonesia, Eko Jumantoro; Anggota Komite Penelitian dan Pengembangan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit [BPDPKS] Toni Liwang; dan Teguh Gumilang, pendiri Teguh Gumilang Indonesian Farmer.
Wirausahawan milenial Teguh Gumilang mengatakan bahwa anak muda harus mengubah pola pikirnya, yang semula menganggap ´petani itu kotor´ menjadi petani sebagai panggilan jiwa.
"Dengan merubah pola pikir tersebut, maka prinsipnya adalah selama orang butuh makan, maka bisnis pertanian akan tetap jalan," katanya.
Dia menambahkan bahwa Bonus Demografi pada 2045 tentunya populasi Indonesia pun meningkat, maka kebutuhan pangan meningkat pula.
"Generasi milenial harus mampu mengelola usaha di sektor agribisnis dan agroindustri melalui pemanfaatan teknologi, serta mengedepankan inovasi dalam pengembangan bisnisnya," kata Teguh Gumilang.
Direktur PEPI Serpong, Muharfiza berpesan meningkatnya pengetahuan dalam penggunaan alat mesin pertanian maka produktivitas hasil pertanian akan meningkat pula.
"Melalui kegiatan MAF ini, Kementan berupaya membuka mata generasi muda bahwa sektor pertanian sangat mengasyikkan bagi generasi milenial dan menjanjikan laba," katanya. [andriwan/timhumaspepiserpong]