18 Juni 2026
Pertanian

Polbangtan Kementan Kawal Sekolah Lapang `Genta Organik` di Aceh

post-img
POLBANGTAN MEDAN: Dosen Polbangtan Medan, Herawaty [ke-2 kiri] bersama penyuluh BPP Banda Mulia memimpin kegiatan Sekolah Lapang yang diikuti antusias oleh 40 petani dari tujuh Poktan di Kabupaten Aceh Tamiang untuk memahami sekaligus praktik pembuatan dan pemanfaatan pupuk organik.

ACEH TAMIANG - Kementerian Pertanian RI terus berupaya mendorong petani bersama penyuluh memproduksi dan memanfaatkan pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah sebagai solusi terhadap melambungnya harga pupuk melalui Gerakan Tani Pro Organik disingkat Genta Organik.

Upaya tersebut dilakukan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] seperti dilakukan Polbangtan Medan menggelar Sekolah Lapang [SL] selama tiga hari, 15 - 17 Maret 2023 bagi 40 petani dari tujuh kelompok tani [Poktan] di BPP Banda Mulia, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam [NAD].

Dosen Politeknik Pembangunan Pertanian [Polbangtan] Herawaty dari Polbangtan Medan didampingi penyuluh BPP Banda Mulia dan stakeholders memberikan materi SL diikuti kegiatan praktik lapang, guna membuka wawasan dan membimbing pembuatan serta memanfaatkan pupuk organik dan pemupukan berimbang.

Langkah Polbangtan Medan sejalan instruksi Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas hasil pertanian adalah ketersediaan dan kecukupan pupuk anorganik.

“Sampai saat ini, untuk memenuhi ketersediaan dan kecukupan pupuk organik sangat sulit dan mahal karena beberapa bahan bakunya masih tergantung impor dari negara lain,” kata Menteri Syahrul.

Seperti diketahui, bahwa di antara tempat bahan baku maupun produksi pupuk adalah Rusia dan Ukraina yang sedang berperang. Sebab itu, Kementan, mendorong para petani menggunakan pupuk organik dan hayati secara mandiri dan masif.

“Gerakan ini tidak berarti meninggalkan penggunaan pupuk anorganik sepenuhnya, melainkan boleh menggunakan pupuk kimia dengan ketentuan tidak berlebihan atau menggunakan konsep pemupukan berimbang,” kata Mentan Syahrul.

Sementara Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi berharap melalui Genta Organik, kebutuhan pangan tetap terjaga dan berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, devisa negara, sumber pendapatan utama rumah tangga petani dan penyedia lapangan kerja.

Guna merealisasikan upaya tersebut, katanya, BPPSDMP Kementan akan membangun 1.020 titik demplot pembuatan pupuk organik, pupuk hayati, pembenah tanah, dan pestisida alami di seluruh Indonesia.

“Ini akan menjadi tempat pembelajaran petani dalam mengembangkan sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami, sehingga dapat mengimplementasikan dan menerapkannya secara mandiri di lahan usaha taninya,” tutur dia.

Direktur Polbangtan Medan, Yuliana Kansrini mengatakan pihaknya selaku Unit Pelaksana Teknis [UPT] pendidikan dari BPPSDMP Kementan bergerak pada pengawalan dan pendampingan kegiatan SL Genta Organik di Aceh salah satunya di Banda Mulia, Kabupaten Aceh Tamiang, NAD.

"Genta Organik mendorong petani memproduksi pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah secara mandiri. Genta Organik bukan berarti mengharamkan pupuk anorganik (kimia), tetap boleh asalkan tidak berlebihan dengan mematuhi konsep pemupukan berimbang," katanya.

Dosen Polbangtan Medan, Herawaty mengatakan selama tiga hari kegiatan SL di Aceh Tamiang, materi yang disampaikan adalah pembuatan pupuk organik padat dan pupuk organik cair (POC), pembuatan pupuk hayati dengan moll dan pembuatan pembenah tanah/Biochar.

Sementara ke-40 petani yang mengikuti SL berasal dari Poktan Pendidikan, Waromah, Paya Rahat, Mekar Sari, Tani Jaya, Warga Tani dan Dono Rejo Maju Jaya yang mengikuti antusias kegiatan SL. [ira/timhumaspolbangtanmedan]

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup