19 Juni 2026
Pertanian

Pertanian Presisi Biaya Rendah, Komitmen BBPP Binuang Dukung Kementan

post-img
BBPP BINUANG: Mentan Syahrul Yasin Limpo didampingi Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi membuka ToT di Lampung yang dihadiri via virtual meeting oleh jajaran BBPP Binuang di Tapin, Kalsel dipimpin Koordinator Program dan Evaluasi, Joko Tri Harjanto.

TAPIN - Balai Besar Pelatihan Pertanian [BBPP] khususnya BBPP Binuang mendukung seruan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo untuk mengembangkan pertanian presisi biaya rendah atau low cost precision farming, sebagai bekal menuju pertanian maju, mandiri dan modern.

Mentan Syahrul mendorong generasi milenial untuk segera mengembangkan inovasi usaha tani sebagai bekal masa depan menuju pertanian maju, mandiri dan modern, di antaranya memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat Pertanian [KUR] pertanian sebagai akses permodalan yang berbunga rendah.

"Besok itu tidak hanya training penguasaan teknologi saja, kita harus mulai dengan keuangan. Sesudah pelatihan harus diberi kesempatan menggunakan KUR. KUR adalah program Presiden Jokowi untuk memperkuat usaha tani," kata Mentan Syahrul saat membuka Training of Trainers [ToT] bertajuk ´Low Cost Precision Farming´ di Bandarlampung, Sabtu, [11/2].

Mentan Syahrul menambahkan, akses permodalan KUR memiliki bunga sangat rendah, karena hanya memungut biaya administrasi sebesar 3%. Negara memberikan layanan tersebut bagi semua kalangan, terutama generasi milenial yang ingin mengembangkan usaha tani.

"Dari pengalaman saya selama tiga tahun, KUR itu telah menjadi kekuatan kita. Dari tahun ke tahun, yang macet  hanya 0,3 persen saja. Sekarang kita punya KUR sudah di atas 100 triliun," katanya.

Berikutnya, kata Mentan, setelah menggunakan KUR, peserta pelatihan harus fokus dan menetapkan target. Pasalnya, pemerintah sudah menyiapkan sarana dan prasarana seperti teknologi mekanisasi dan bibit unggul.

"Di dalam pelatihan harus fokus. Harus ada target. Pengolahan tanah harus ada persiapan bibit. Ada persemaian. Ada penanaman. Jadi anak-anak kita tidak berhenti sampai pelatihan, harus sampai berhasil," katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa pelatihan tersebut  melibatkan 105 peserta dari berbagai lapisan, jika ditotal dengan pelatihan di seluruh Indonesia, mencapai 21.533 peserta dengan metode offline pada masing-masing Unit Pelaksana Teknis [UPT].

"Tujuan pelatihan, untuk menguatkan implementasi program utama Kementan yakni digitalisasi pertanian khususnya pertanian presisi," katanya.

Dedi Nursyamsi menambahkan, pertanian presisi diupayakan mendongkrak perbaikan kualitas produk serta menjamin kontinyuitas pertanian melalui inovasi teknologi relatif murah dan sederhana.

Kepala BBPP Binuang, Bambang Haryanto menyatakan komitmen jajarannya mengembangkan ´pertanian presisi biaya rendah´ di wilayah Kalimantan bagi pengembangan pertanian maju, mandiri dan modern.

"Sistem low cost precision farming adalah solusi pasti bagi peningkatan nilai tambah produk pertanian sekaligus peningkatan efisiensi sehingga perbaikan ekonomi dan peningkatan produksi bisa diwujudkan," kata Bambang Haryanto seperti dikutip Koordinator Program dan Evaluasi BBPP Binuang, Joko Tri Harjanto di Tapin, Kalsel, usai mengikuti ToT melalui zoom meeting.

Menurutnya, jajaran BBPP Binuang siap melaksanakan instruksi Mentan Syahrul dan arahan Kabadan Dedi Nursyamsi serta Kabalai Bambang Haryanto untuk sosialisasi dan implementasi low cost precision farming di wilayah Kalimantan. [joko/agus/bbppbinuang]

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup