19 Juni 2026
Pertanian

Pertanian Modern, Kementan Dorong Kewirausahaan untuk Pemberdayaan Petani

post-img
BBPP BINUANG: Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dan Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi [kanan] berkomitmen mengawal pengembangan SDM pertanian Indonesia melalui pemanfaatan smart farming didukung akses modal perbankan melalui KUR.

BOGOR - Sektor pertanian Indonesia siap memasuki pertanian modern berbasis agribisnis, melalui pemanfaatan Smart Farming dan akses modal perbankan dengan Kredit Usaha Rakyat [KUR].

Komitmen tersebut mengemuka pada Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh [PSPP] Volume IV yang digelar oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI [BPPSDMP] selama tiga hari, 22 - 24 November 2022.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mendorong petani untuk menerapkan smart farming, untuk menghadapi tantangan perubahan iklim bukan lagi dengan cara-cara konvensional.

"Hadapi dengan metode modern, salah satunya smart farming. Perkembangan ke depan membuat lahan semakin sempit. Jumlah penduduk terus bertambah sehingga harus menerapkan smart farming," katanya.

Dia mengharapkan penyuluh mendampingi dan mengawal petani menerapkan digitalisasi pertanian dan mekanisasi berbasis inovasi teknologi, untuk menghasilkan produksi berkualitas dan produktivitas terus meningkat.

"Kemajuan pertanian harus didukung generasi milenial. Mereka memiliki inovasi tinggi untuk melakukan cara-cara baru terhadap penanganan pertanian maju, mandiri dan modern," kata Mentan Syahrul.

Dia mengapresiasi upaya BPPSDMP Kementan menggelar PSPP Volume IV secara hibrid bagi sejuta petani dan penyuluh di seluruh Indonesia.

Menurutnya, kegiatan PSPP merupakan peningkatan agenda intelektual, kemampuan akademik dan perilaku wirausaha sehingga akan mendorong dan memicu lahirnya lebih banyak wirausahawan muda pertanian.

"Saya yakini penyuluh yang hadir bukan kaleng-kaleng. Kementan harapkan insan-insan pertanian di seluruh Indonesia memanfaatkan peluang pelatihan untuk meningkatkan kemampuan. Setidaknya, dapat mengatasi persoalan kemiskinan melalui pembangunan pertanian," katanya lagi.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa transformasi pertanian dari subsistem menuju pertanian agribisnis tidak bisa dielakkan lagi. 

"Pertanian kini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan masyarakat. Sudah saatnya pertanian dijadikan agribisnis guna meningkatkan penghasilan," katanya.

Menurut Dedi, transformasi pertanian harus dilakukan dengan cara-cara modern yang memanfaatkan smart farming agar efisien dan efektif serta menekan ongkos produksi. 

"Di masa lalu, pertanian konvensional dengan produktivitas rendah masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kini, produktivitas tersebut, tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan pangan masyarakat," katanya.

Dedi Nursyamsi mengingatkan bahwa dalam pertanian smart farming terdapat pemanfaatan bioscience dan bioteknologi berupa biopestisida dan biofertilizer. 

"Begitu pula pemanfaatan benih bermutu, termasuk pemanfaatan Alsintan dan otomasisasi dari hulu hingga hilir," katanya lagi.

Kegiatan PSPP Volume IV yang dipusatkan di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang, pelatihan Pertanian ini membidik penumbuhan dan pengembangan wirausaha pertanian. 

Dihubungi terpisah, Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati mengatakan BBPP Binuang sebagai UPT Pelatihan menjaga komitmen untuk mendukung tercapainya SDM pertanian yang berdaya saing, maju, mandiri dan modern. 

Kabalai Binuang, Yulia AK mengakui peran penting pemberdayaan petani, maka penyuluh memegang peranan penting untuk memberikan pembinaan dan pendampingan kepada petani dan pelaku usaha bidang pertanian. 

"Kegiatan PSPP diharapkan mendorong dan mendukung terjadinya proses penyadaran tugas dan fungsi serta peranan penyuluh dalam pemberdayaan petani," katanya. [agus/timhumasbbppbinuang]

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup