MEDAN [B2B] - Sektor pertanian ke depan bukan melulu berkutat pada budidaya, Kementerian Pertanian RI mendorong penguasaan hulu ke hilir, agar pertanian menjadi kegiatan bisnis yang dikelola sebagai korporasi oleh petani berkarakter wirausahawan [entrepreneur].
Kementan pun memposisikan Politeknik Pembangunan Pertanian [Polbangtan] sebagai ´kawah chandradimuka´ Kelak mahasiswanya lulus menjadi petani milenial dan wirausahawan muda yang andal, mumpuni dan berjiwa petarung di tengah persaingan global yang kompetitif.
Upaya tersebut dilakukan Polbangtan Medan, dengan menggandeng mitra dunia usaha dan dunia industri [DuDi] untuk menggembleng mahasiswanya siap terjun sebagai job creator dan job seeker berkualifikasi tinggi.
Pekan lalu, selama empat hari, 15 - 18 November, Gayo Cuppers Team [GCT] dilibatkan Polbangtan Medan mendukung Roasting & Cupping Class bagi mahasiswa, dosen dan PLP yang digelar di kampus Polbangtan Medan. Kegiatan tersebut korelasi dengan pengembangan miniplant industry dan modern nursery khusus komoditas kopi.
Langkah Polbangtan Medan sejalan target Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo untuk menyiapkan SDM pertanian yang berjiwa wirausaha, maka salah satu program utama Kementan menjamin produktivitas, kontinyuitas dan ketahanan pangan adalah penumbuhan 2,5 juta pengusaha pertanian milenial hingga 2024.
"Generasi milenial adalah penentu kemajuan pertanian Indonesia. Tongkat estafet pembangunan pertanian ada pada pundak generasi muda," katanya.
Menurut Mentan, upaya tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil, karena generasi milenial mulai sadar bahwa pertanian adalah ´tambang emas´ tanpa batas waktu.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa petani milenial diharapkan mampu menjadi resonansi tenaga muda di sekitarnya untuk menjadi SDM pertanian unggulan yang mendukung pembangunan pertanian maju, mandiri dan modern.
“Petani milenial dan wirausahawan muda merupakan salah satu upaya Kementan, untuk menepis stigma negatif tentang dunia pertanian khususnya di level generasi milenial," katanya.
Direktur Polbangtan Medan, Yuliana Kansrini mengatakan pihaknya aktif melakukan pembinaan untuk mendorong dan mendukung pengembangan petani milenial.
"Polbangtan Medan turut bertanggungjawab memelopori pertanian menjadi ladang emas bagi generasi milenial di wilayah Sumatera bagian utara," katanya.
Menurut Yuliana, saat ini Polbangtan Medan tengah mengembangkan miniplant industry dan modern nursery khusus komoditas kopi.
"Fasilitas tersebut akan menjadi tempat pembelajaran dan bisnis di bidang kopi, sehingga mahasiswa nantinya akan mampu untuk menjadi seorang enterpreuner kopi mulai dari pembibitan sampai pengolahan kopi," katanya membuka Roasting & Cupping Class, baru-baru ini.
Mahasiswa, dosen dan PLP tampak antusias mengikuti Roasting & Cupping Class yang dipandu fasilitator GCT yang sudah bersertifikat Q-Grader, Mahdi dan Fitra Cahyadi.
Kedua fasilitator GCT mengajarkan aneka teknik roasting kopi mengacu jenis kopi, proses pengolahan kopi, kadar air, densitas, masa penyimpanan, ukuran biji hingga jenis cacat kopi.
"Sementara dari sisi coffee cupping, diajarkan materi terkait experience cupping, ketinggian tanam, level roasting, cupping kopi nusantara, mengacu proses pasca panen, triangulation, old factory skill dan sensory skill," kata Yuliana Kansrini.
Dia mengharapkan Roasting & Cupping Class dapat melengkapi dan menambah kemampuan dosen, PLP dan mahasiswa dalam proses pengolahan dan pengujian mutu kopi, selain pelatihan barista dalam meracik kopi yang pernah digelar sebelumnya. [ira/timhumaspolbangtanmedan]