21 Juni 2026
Pertanian

BBPP Binuang Ajak Insan Pertanian Kalimantan Sensitif pada Krisis Pangan Global

post-img
BBPP BINUANG: Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi [rompi hitam] menerima cendera mata dari Maryoto, petani milenial asal Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng saat kunjungan kerja di Kalsel didampingi Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati [kanan]

TAPIN - Krisis pangan global menghantui dunia saat ini, Indonesia harus menangkal dan antisipasi hal itu. Sekitar 60 negara mengalami krisis pangan lantaran harga pangan melejit dan pasokan pasar global turun signifikan. Kiat Pemerintah RI adalah kendalikan inflasi, diversifikasi pangan lokal sebagai substitusi pangan impor dan menggenjot ekspor.

Tanda-tanda krisis pangan secara global sudah semakin terasa. Kementerian Pertanian pun telah menyiapkan SDM-SDM pertanian untuk menghadapi hal itu, melalui Training of Trainer [TOT] bertema Solusi Pupuk Mahal yang dilaksanakan tanggal 26 -28 Oktober mendatang di BBPKH Cinagara, Jawa Barat.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, saat ini tanda-tanda krisis semakin nyata.

“Harga-harga bahan pangan meningkat tajam sehingga banyak sekali negara-negara yang telah mengalami inflasi sangat tinggi, bahkan mencapai rekor seperti di Turki dan Argentina,” katanya pada Sosialisasi ToT pada Selasa lalu [18/10].

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, ToT adalah sarana untuk menyiapkan SDM pertanian menghadapi mahalnya pupuk imbas dari situasi global, seperti perang Ukraina-Rusia.

“Kita tidak tinggal diam. Kita siapkan SDM-SDM agar kondisi pupuk mahal ini bisa diantisipasi. Salah satunya melalui ToT. Lewat ToT ini, peserta kita harapkan dapat menjelaskan tentang solusi pupuk mahal,” ujarnya. 

Selain itu, agar peserta ToT dapat menyusun bahan ajar tentang solusi pupuk mahal, juga mendiseminasikan informasi tentang solusi pupuk mahal, termasuk mendapat wawasan inovasi kambing dan domba.

Menyikapi hal itu, Balai Besar Pelatihan Pertanian [BBPP] khususnya BBPP Binuang akan mengajak dan menyerukan insan-insan pertanian di Kalimantan untuk memiliki sense of crisis seperti diserukan oleh Kabadan Dedi Nursyamsi.

Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati mengatakan pihaknya terus mendukung dan mengawal petani, penyuluh dan stakeholders untuk bersama-sama mengantisipasi krisis pangan global melalui strategi pengendalian inflasi, diversifikasi pangan lokal dan substitusi pangan impor.

Berarti untuk ketiga komoditas, kata Yulia AK, produksi harus aman. Tidak boleh kekurangan. Produksi, olahan dan distribusi harus aman lancar. Mengingat Indonesia khususnya wilayah Kalimantan adalah pulau yang luas dan besar sehingga kesemuanya harus aman terkendali.

"Distribusi menjadi kata kunci. Tidak boleh bersoal. Distribusi dari tempat yang surplus produksi misalnya cabai surplus di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan surplus, tapi di daerah lain banyak yang minus, maka distribusikan dari dari daerah surplus ke minus," katanya mengutip Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi di Jakarta saat membuka webinar Bertani On the Cloud [BOC] Volume 202.

Menurutnya, apabila pemasaran produk olahan dan konsumsinya meningkat maka produksinya juga naik, sebagaimana Hukum Ekonomi, petani akan terdampak pada peningkatan kesejahteraan lantaran permintaan tinggi akan memicu harga jual menguntungkan petani. [agus/timhumasbbppbinuang]

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup