BANYUASIN - Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menyatakan bahwa saat ini generasi milenial menjadi bonus demografi Indonesia yang harus terus diberdayakan untuk mengembangkan sektor pertanian.
Sepanjang 2021, Kementan telah mengukuhkan lebih dari 2.000 Duta Petani Milenial/Duta Petani Andalan [DPM/DPA] agar dapat menjadi motor penggerak petani-petani milenial di seluruh Indonesia.
Survei Angkatan Kerja Nasional [AKN] yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik [BPS] melansir bahwa jumlah tenaga kerja terdidik bidang pertanian saat sekitar 69%.
Survei AKN dari BPS menyebutkan, jumlah tersebut didominasi oleh lulusan sekolah dasar [SD] dan tidak tamat SD dengan umur di atas 45 tahun sebesar 71%. Hingga Mei 2021, jumlah petani di Indonesia mencapai 38 juta orang, 70% di antaranya di atas 40 tahun.
Mengacu pada Data BPS tersebut, yang mendorong Kementan terus berupaya mencetak setidaknya 2,5 juta petani milenial hingga 2024. Dengan menggunakan strategi perekrutan 200 petani baru per kabupaten di seluruh Indonesia, yang awalnya dimulai dari DPM/DPA di kabupaten masing-masing.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa mencetak petani milenial yang mandiri, berdaya saing dan berjiwawira usaha, terus digenjot melalui pendidikan vokasi pertanian dan DPM/DPA.
“Kami ciptakan job seeker dan job creator yang siap memompa kreativitas dan produktivitas, DPM/DPA dibentuk oleh Kementan untuk meningkatkan peran generasi muda dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian,” katanya.
Dalam rangka akselerasi program Kementan di bawah BPPSDMP, maka SMK PP Negeri Sembawa selaku pembina DPM/DPA di Provinsi Sumatera Selatan menfasilitasi rapat koordinasi bersama Sekretaris BPPSDMP Kementan, Siti Munifah pada Sabtu [15/10].
Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah adanya konsolidasi dan koordinasi yang baik, untuk mendukung suksesnya pembangunan pertanian khususnya di Sumatera Selatan.
Selain DPM/DPA, kegiatan juga dihadiri Jaringan Pertanian Nasional (JPN) Komda Sumatera Selatan serta Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang (BKP Palembang).
DPM/DPA sangat antusias sekali ketika dihadirkan narasumber dari BKP Palembang, dikarenakan banyak sekali DPM/DPA yang berusaha untuk bisa melakukan ekspor.
“Semoga kegiatan ini menjadi momentum bagi DPM/DPA untuk meningkatkan kinerja. Terutama sebagai motor penggerak resonansi kebangkitan pertanian yang maju, mandiri, modern. Didukung pemanfaatan teknologi 4.0 pada usaha pertanian yang digeluti pada 16 kabupaten dan kota di Sumsel," kata Siti Munifah.