22 Juni 2026
Pertanian

BBPP Binuang Dukung Output FGD Fornas, `P4S Motor Pembaharu Pedesaan`

post-img
BBPP BINUANG: Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati [ke-3 kanan] bersama sebagian dari pengelola P4S wilayah Kalimantan, yang menghadiri Fornas P4S 2022 di Bali.

DENPASAR - Forum Nasional Pembinaan Kelembagaan Pelatihan Pertanian Swadaya 2022 di Bali [Fornas P4S] menggelar Focus Group Discussion [FGD] bertajuk ´P4S Sebagai Pembaharu Pedesaan Tingkatkan Ketersediaan Pangan Lokal Melalui Pemanfaatan Teknologi Smart Farming dan Pertanian Regeneratif´ pada Minggu [25/9] di Hotel Prama Sanur, Denpasar.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementan[Puslatan] Leli Nuryati menjelaskan bahwa tema FGD tersebut mengacu pada input dari para pengelola P4S di seluruh Indonesia. 

“Diharapkan output dari kegiatan FGD pada Fornas P4S 2022 adalah tersusun rancangan dan rencana implementasi peran P4S sebagai pembaharu pedesaan” kata Leli.

Dalam arahannya, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi mengingatkan tentang pentingnya P4S sebagai pelopor pembangunan pertanian pedesaan.

“Kita semua akan membulatkan tekad untuk memulai pembangunan pertanian kita dari pedesaan. Langkah pertama, dimulai dari pemenuhan kebutuhan pangan,” katanya.

Hal itu, menurut Dedi Nursyamsi, sejalan dengan instruksi Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengatakan pembangunan pertanian harus dilakukan dari lapangan, seraya mengingatkan tentang peran vital insan pertanian dapat menghadirkan banyak inovasi dan memperluas jejaring usaha.

“Pertanian adalah pekerjaan lapangan. Pembangunan pertanian harus dilakukan dari lapangan, dari desa sebagai dasarnya. Pembangunan tersebut akan turut mengiringi pembangunan pertanian di segala sektor,” katanya mengutip arahan Mentan Syahrul.

Staf Khusus Menteri Bidang Kebijakan Pertanian, Prof Imam Mujahidin Fahmis melalui zoom meeting mengulas tentang pembangunan pertanian pedesaan. 

“P4S diharapkan dapat memberikan peranan yang signifikan seperti terlibatnya setiap stakeholders di sekitar desa dalam merencanakan pembangunan pertanian di pedesaan serta harus adaptif dan kolaboratif,” katanya.

Sementara Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati menyoroti tentang peran P4S menjadi pionir dan penggerak agribisnis melalui korporasi petani.

"Dengan adanya korporasi petani, diharapkan dapat mendongkrak produksi startegis nasional karena tidak hanya kemandirian pangan yang menjadi sasaran akhir, produk pertanian kita harus orientasi ekspor," katanya.

Hal itu diamini oleh Dedi Nursyamsi mengingat P4S merupakan petani yang memang maju. Petani yang pintar. Petani yang adaptif terhadap perubahan inovasi teknologi pertanian dengan petani lain diharapkan frekuensinya sama, sehingga transformasi informasi dan inovasi teknologi akan lebih mudah disampaikan kepada para petani oleh P4S.

“Pembangunan pertanian itu dimulai dari pedesaan untuk memenuhi kebutuhan bukan hanya saudara-saudara masyarakat di perdesaan, juga bagi ibukota kabupaten,  ibukota provinsi, bahkan ibukota negara, bahkan juga untuk ekspor,” katanya.

Dedi Nursyamsi mengaku optimistis melalui Fornas P4S 2022, mendorong konsolidasi para petani, seluruh praktisi pertanian akan semakin kuat untuk mengantisipasi krisis pangan global. 

“Begitu datang ke Bali, saya ketemu dengan saudara-saudaraku. Sahabat semua dari P4S dengan raut wajah yang cerah dan penuh optimisme. Saya jadi optimistis bahwa masalah pangan, inshaa Allah Indonesia aman. Ada P4S, pangan Indonesia inshaa Allah aman,” tegasnya. [reza/agus/timhumasbbppbinuang]

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup